Showing posts with label Cerpen Islami. Show all posts
Showing posts with label Cerpen Islami. Show all posts

Dia Menikah, Meninggalkanku…

2:59 PM 0


Jika berharap pada manusia, persiapkan diri Anda untuk kecewa

Sehabis rapat aku tergesa-gesa meninggalkan sekre. Dengan langkah-langkah panjang kuterjang cuaca terik siang ini. Walau dengan sedikit berkeringat tapi Alhamdulillah jilbab yang melindungiku sejak 6 tahun yang lalu mampu menaungiku dari sengatan panas si raja siang ini, begitu juga dengan rok dan blus lengan panjang yang kukenakan mampu melindungi tangan dan kakiku dari kegosongan.
Aku terus melangkahkan kakiku dengan hati dan pikiran yang berkecamuk. Ah cuaca siang ini seolah menggambarkan kondisi hatiku, PANAS. Beberapa kali aku beristighfar memohon ampun pada Allah atas kekerdilan diri, namun tetap saja tidak membuatku tenang. Bahkan semakin kupikirkan semakin terbakar rasanya hati ini, SAKIT. Faghfirli ya Allah…
Sesampai di kos segera kutaruh tasku yang lumayan berat, aku ingin menenangkan hati. Tanpa berlama-lama segera kubasuh muka, tangan, menyapu kepala, membasuh kaki, ya WUDHU’. Baru saja membaca ta’awusy kristal bening ini tidak terbendung lagi, aku menangis. Kucoba hadirkan diri dan hati untuk terus membaca dan memahami surat cinta-Nya yang mulia. Alhamdulillah aku menemukan ketenteraman.

Usai tilawah kurebahkan tubuhku, ku arahkan tatapanku lurus-lurus menembus langit-langit kamar yang putih. Di sana, tampak berkelebatan kembali seperti slide, bayangan kejadian beberapa waktu yang lalu. Kuurung niat tidur siang karena mata ini benar-benar gak bisa terpejam. Hmm, aku mencoba mencari kesibukan lain.

Baru saja aku mencoba membaca buku “Nasihat Pelembut Hati” milik seorang Saudara yang aku pinjam, kristal bening ini tiba-tiba membuncah saat aku menemukan kalimat “BANYAK ORANG HINA BISA MELAKUKAN KEBAIKAN NAMUN HANYA ORANG MULIA YANG MAMPU MENINGGALKAN MAKSIAT”. Dada ini kembali sesak saat aku teringat akan kebodohan yang aku lakukan, aku menangis sejadi-jadinya berharap dosa-dosa ikut terhanyut dalam aliran air mataku. Aku menghentikan bacaanku.

Aku tahu sampai sekarang Allah masih menyembunyikan aibku, kalau bukan karena aku yang bercerita tentulah tidak ada yang akan tahu, seorang pun. Kalimat ini benar-benar memberikan cambuk yang begitu dahsyat buatku, sebegitu hinakah aku?? Robb, aku jadi teringat wajah saudara-saudaraku yang begitu percaya akan keteguhan iman dan keistiqamahanku. Bahkan tak jarang juniorku mengatakan ”aku ingin seperti kakak, aku ingin militan seperti kakak, kak ajari kami tentang ketegaran dan ketegasan” atau kata-kata lain yang menggambarkan bahwa seolah aku adalah akhwat yang hebat yang patut dijadikan panutan. Padahal kini aku sudah rapuh, ALLAH, Aku benar-benar malu…

Mataku masih kelihatan sembab saat sahabat terbaikku datang mengunjungiku. Dhira, gadis berdarah Jawa inilah satu-satunya tempatku berkeluh kesah. Bawaannya yang begitu ceria namun tenang mampu membuatku nyaman di sampingnya. Walau kerap setiap ceritaku yang dia anggap sebagai kebodohan, akan dia tanggapi dengan taushiyah yang menghujam, lembut tapi tegas dan tetap saja aku tidak pernah bosan curhat padanya, sebab kutahu apa yang dikatakannya adalah yang terbaik untukku.

“Assalamu’alaikum, sehat cinta?” khas sapa hangatnya setiap kali bertemu aku. “Alhamdulillah”, jawabku lirih.
“Pasti ada apa-apa ne. Hey.., kamu kenapa? Ceritalah!!!” penasaran akan keadaanku.
“Nggak ada apa-apa Ra” jawabku, khawatir kalau ceritaku kali ini akan benar-benar membuat dia marah.
“Hmm, aku tahu, ini pasti ada kaitannya dengan si “Itonk” itu”, begitulah ia menyebut seorang ikhwan yang selama ini banyak membuat aku harus mengeluarkan air mata. Astaghfirullah…
Aku mengangguk kemudian tertunduk.
“Rha…..” aku tak kuasa menahan tangis dan dengan cepat ia memelukku dalam dekapannya yang hangat.
“Tia sabar, tenangkan hatimu, Istighfar. Coba cerita, apalagi yang dia lakukan terhadapmu?” Bukannya bercerita, tangisku malah kian sangat.
“Rha, dia akan menikah minggu depan dengan akhwat lain”.
“Firdaus maksudmu? Menikah? Akhwat lain? Siapa?”.

Firdaus, ikhwan yang selama ini banyak kutaruh harapan tiba-tiba kutemukan cerita kalau ia akan menikah. Setelah selama 1 tahun menjalin hubungan dengannya. Begitu saja ia meninggalkan aku, padahal ia sudah pernah berjanji akan menikahiku, bahkan sampai datang ke rumah menemui orang tuaku untuk meyakinkan kalau ia benar-benar serius. Bahkan aku pun sudah pernah dikenalkan kepada keluarganya.

Seharusnya aku tidak perlu kaget dengan cerita ini, karena suatu hari ia pernah mengatakan padaku kalau ia tidak akan bisa menikahiku karena alasan Ibunya yang menginginkan ia menikah dengan perempuan yang memiliki pekerjaan tetap. Aku pikir ini adalah alasan yang dibuat-buat, karena pada saat itu kami ada sedikit masalah.

Dan ternyata kali ini dia akan benar-benar menikahi akhwat lain, seorang akhwat PNS. Aku tak tahu apakah aku menangis karena sakit hati kalau ia akan menikah dengan akhwat lain ataukah karena baru tersadar dengan kebodohanku selama ini. Aku begitu menyesal pernah terperangkap dalam cinta palsunya, semakin menyesal terlebih karena hubungan kami sudah terlalu jauh, tidak hanya sebatas sms-sms-an atau telepon-teleponan yang begitu romantis, bahkan kami sudah pernah jalan berduaan. ASTAGHFIRULLAH YA RABB…

Aku juga merasa berdosa pada Dhira, karena setiap kali ia menasihatiku dan meminta agar aku menghentikan “hubungan” dengan seorang ikhwan sebelum menikah, setiap kali pula aku berjanji akan mengakhiri semuanya. Tapi di belakangnya aku masih saja mengulangi kebodohan ini, dengan kesalahan yang sama dan dengan orang yang sama. Yang lebih membuatku menyesal lagi, aku pernah berfikir untuk mengakhiri persahabatan dengan Dhira karena kupikir ia terlalu ikut campur dengan masalah pribadiku, tapi karena kesabarannya menasihatiku dan selalu setia di sampingku maka kalimat itu tidak pernah terucap. Dan aku bersyukur tidak melakukan itu padanya.
Dhira memegang bahuku, “Tia dengarkan aku, kamu harus bisa tegar. Bersyukurlah karena kamu tidak jadi menikah dengan dia, dia bukanlah orang yang baik buatmu. Ingatkan, berapa kali ia menyakitimu. Kalau ia sanggup melakukan ini sebelum kalian menikah maka tidak akan menutup kemungkinan dia akan menyakitimu saat setelah menikah. Ia ikhwan terburuk yang pernah aku kenal, maka aku tidak akan pernah ridha kalau ia menikahimu. Mulai sekarang, berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahan ini. Kumohon kali ini dengarkan aku, dulu aku selalu memintamu agar tidak menjalin hubungan dengan ikhwan sebelum ia benar-benar halal bagimu, tapi kamu tidak pernah hiraukan nasihatku. Tia aku sayang kamu, maka aku menginginkan yang terbaik buatmu. Yakinlah orang yang tepat akan datang di waktu yang tepat juga. Menikahnya dia tidak akan membuat bumi berhenti berputar dan tidak harus membuatmu berhenti melangkah. Masih ada waktu memperbaiki segalanya, di luar sana masih banyak ikhwan yang mulia yang senantiasa mampu menjaga iffah dan izzah, berdoa saja semoga Allah mempersiapkan salah satunya untuk kita”, Dhira mengakhiri nasihatnya untuk menenangkan aku.

Sekarang aku hanya mampu berdoa agar aku, sahabatku Dhira, Anda dan orang-orang shalih dijauhkan dari kesalahan seperti ini, dan tidak pernah mengalami kedukaan ini.
 “Kini semakin ku yakin, kemaksiatan tidak akan pernah berakhir dengan keindahan”.
Allah, dengan apa aku menebus kesalahan ini, terimalah sujud taubatku….


Jangan Pergi, Dinda…

2:57 PM 0
Sekarang aku hanya bisa melihat senyumnya dalam bayanganku saja. Tak pernah lagi aku melihatnya tertawa riang seperti dulu ketika ia tak begini. Jika pun ia tertawa, itu hanya lah ekspresi kegilaannya. Bukan lagi wujud kewarasan.
Aku harus bolak-balik ke panti rehabilitasi ini, melihat kondisinya yang seperti mayat hidup, antara ada dan tiada. Tubuh kurus, layu dan tatapan hampa. Ia seperti terbuai dalam mimpinya sendiri, entah apa. Ingin rasanya aku masuk dalam khayalnya itu, agar aku tahu apa yang bisa aku lakukan untuk menyembuhkannya.
Antara sedih dan marah tiap kali aku melihat sesosok tubuh tak bersemangat itu. Bayangku selalu tertuju pada reka adegan setahun silam, yang ketika ku teringat, hati ini bagai terhujam sembilu. Tangis tercekat di tenggorokanku. Perih!


***
            “APA kegiatanmu hari ini?” tanyaku padanya pagi itu.
“Aku akan pergi dengan Rio. Ada pesta kecil-kecilan di rumahnya. Hari ini dia ulang tahun.” jawabnya sambil terus berdandan.
“Siapa saja yang pergi?”
“Aku dan beberapa teman dekatnya.”
“Sampai jam berapa?”
“Sudahlah, Rika…. Berhentilah bersikap seolah kau adalah ibuku!”
***
Jam dinding menunjukkan pukul 22.50 WIB. Teman-teman kos yang lain sudah menikmati tidurnya. Hanya satu kamar yang penghuninya masih terbangun. Aku. Menunggu sahabatku yang tak kunjung pulang sejak pertengkaran kami sore tadi. Berulang kali aku menghubungi nomor ponselnya, tidak aktif.
Aku mulai risau. Tak biasanya dia begini. Aku bergegas mengambil jaket, tas dan kunci motorku. Melaju di kebingaran kota ini menuju tempat yang aku tak tahu pasti apakah seorang yang aku cari ada di sana. Hingga tibalah aku pada alamat yang ku tuju, tapi rumah besar bercat hijau itu tampak sepi.
“Assalamu’alaikum, Pak…” sapaku pada lelaki paruh baya yang kudapati tengah duduk santai di pos jaga rumah ini.
“Wa’alaikumsalam, Dek. Cari siapa?” jawabnya.
“Rio ada, Pak? Saya mau memberi hadiah ini. Hari ini dia mengundang saya ke pesta ulang tahunnya. Dia bilang pestanya diadakan di rumah. Tapi kenapa terlihat sepi ya, Pak? Apa pestanya sudah selesai?” jawabku agak gugup. Beliau melihat ke arah tanganku. Sebelum sampai ke sini, aku mampir terlebih dahulu ke toko penjualan berbagai jenis kado. Aku hanya membeli kotak kadonya saja. Hanya itu, untuk sekadar berpura-pura, jikalau seandainya aku menemui kejadian begini. Bertemu penjaga rumahnya.
“Pestanya ada, Dek. Di lantai dua. Tapi… “
“Tapi apa, Pak?”
“Kenapa adek baru datang jam segini, dan…. pakaian adek, apa tidak salah?” aku terdiam. Kembali memutar otak untuk menjawab kecurigaan bapak ini.
“Saya baru pulang dari kegiatan kampus, Pak. Belum sempat pulang untuk ganti baju, langsung buru-buru ke sini. Memangnya kenapa, Pak? Kucel ya?” Aku menjawab seadanya. Ya Allah, aku berbohong lagi…. Sebenarnya aku merasa takut, tak pernah aku keluar rumah semalam ini. Belum lagi perasaan bersalah. Apa pantas jilbaber sepertiku keluar rumah tengah malam begini? Tapi bagaimana lagi, aku benar-benar khawatir dengan sahabatku. Allah, maafkan aku…. Doaku lirih…
“Bukan, tapi jilbabnya itu lho…. “
“Memangnya kenapa, Pak?” jawabku menyelidik. Malam itu aku mengenakan rok santika warna hijau, dan jaket model Army untuk menutup jilbab panjangku.
“Ya, aneh. Masa pergi pesta begini, dandanannya kaya mau pergi pengajian. Yang di dalam malah hanya pakai rok-rok pendek. “Kata beliau sedikit nyengir. Aku hanya cengengesan, menyembunyikan kecemasanku yang semakin menjadi-jadi. Pesta begini? Maksudnya?
“Bapak ini bisa saja… Memangnya pestanya, pesta bagaimana, Pak?”
“Ngga tau lah, Bapak. Tapi bapak sarankan adek jangan ikuti pesta ini. Kecuali kalau jilbab adek ini cuma topeng.” kata beliau sambil membuka pintu pagar.
Aku tersenyum getir, ketika mendengar kalimat bapak ini. Setelah pagar di buka, aku masuk sambil membawa motorku. Aku masuk lewat pintu bagasi setelah aku memarkirkan motorku tak jauh dari pos jaga, begitu arahan dari Pak Agus, bapak penjaga tadi.
Ruang yang pertama ku masuki ini adalah dapur. Tak ada siapa-siapa di sini. Masuk ke ruang tengah, terdengar suara music dari lantai atas. Cukup keras. Aku melihat ke lantai atas, Dengan agak gugup aku menapaki satu per satu anak tangga. Teringat akan kalimat Pak Agus tadi. Tapi bapak sarankan adek jangan ikuti pesta ini. Kecuali kalau jilbab adek ini cuma topeng.
Aku tiba di bibir atas tangga. Tanpa izin, aku bergabung dengan mereka. Pesta yang tidak beres ternyata, ku lihat botol minuman keras ada di mana-mana. Mungkin karena itulah mereka tak begitu menyadari kehadiranku. Remang. Ada beberapa wajah yang ku kenal, tapi yang ku cari tak kunjung ku temukan. Yang ada hanya sekitar delapan orang. Ada empat pasang muda-mudi yang “teler” di ruang tengah lantai atas ini. Aku terus mencari. Kususuri satu persatu sudut ruangan dengan tetap berdiri di bibir tangga. Mataku tertuju pada jam dinding yang cukup besar di ruangan ini, pukul 01 dini hari. Di pojok kanan, ku lihat ada kamar yang sedikit terbuka pintunya. Dengan lancang aku masuk tanpa memberi aba-apa, dan…
Tanganku dengan gesit menarik kerah baju seorang pria. Ku lihat ia hendak menyuntikkan sesuatu ke lengan gadis lugu yang ku kenal. Ku tarik sekuat tenaga hingga ia terhempas menghujam lemari yang berada tepat di belakangnya. Gadis ini duduk setengah sadar di sofa kamar ini. Dengan sigap aku membuka ikatan kain yang mengikat lengan kanannya. Tapi aku merasa ada yang datang dengan cepat dari arah belakangku, lalu….
Aku diam. Beku. Ku lihat ada aliran darah segar mengucur dari kepala gadis yang ku sayangi ini. Kakiku terasa lemas. Harusnya vas bunga yang hendak dihujamkan lelaki itu mengenai kepalaku, namun aku berhasil mengelak, tapi serangan itu akhirnya salah sasaran.
Aku berang. Ku dekati lelaki yang juga tengah terpaku itu secepat kilat. Ku layangkan kepalan tangan kananku menuju pipi kirinya. Ia sempoyongan. Ku pukuli lagi dan lagi. Suara music yang cukup keras dari luar membuat yang lain tak menyadari apa yang tengah terjadi di kamar ini. Aku lihat lelaki itu tak berdaya. Aku pun kelelahan. Sudah lama aku tak mempraktekkan ilmu karate sabuk hitamku, sejak aku memilih untuk berjilbab.
Aku menelepon seorang teman yang punya koneksi ke kepolisian di kota ini. Beberapa saat dua mobil polisi menyambangi rumah yang tengah mengadakan pesta miras dan narkoba tersebut. Rio si pemilik rumah jadi sasaran utama. Tak lupa aku meminta polisi-polisi ini untuk mendatangkan ambulance. Sahabatku butuh pertolongan.
“Maaf, Pak… Saya hanya ingin menjemput teman saya. Saya tidak tahu jika akhirnya begini. “Kataku kepada Pak Agus.
“Tidak apa, Dek. Semoga dengan ini, Rio jadi sadar. Bapak tidak bisa berbuat banyak. Orang tua Rio sebentar lagi akan kemari. “
Polisi memboyong seluruh peserta pesta untuk dimintai keterangan tentang kejadian malam itu, termasuk Pak Agus. Aku bergegas mengikuti ambulance yang membawa temanku ke rumah sakit. Ia mengalami pendarahan di kepalanya.
***
Aku menatap lekat wajah yang pucat pasi itu. Aku memeluknya dalam. Ku harap ia merasakan kerinduan di hatiku ini atas dirinya yang dulu, sebelum mengenal lelaki yang kini mendekam di penjara, sebelum mengenal pergaulan yang merusak cita-citanya, sebelum ia mengenal dunia yang ia katakan bisa menghilangkan kesedihannya ditinggal mati kedua orang tuanya, sekitar lima bulan sebelum kejadian malam itu. Tangisku berderai tak henti. Hati ini sakit menyesali kejadian malam itu. Mulutku merucau mengungkapkan penyesalanku. Isi hatiku yang tak terbendung mengharapkan kesembuhannya.
“Din, apa yang kini kau rasakan. Bicaralah… katakan padaku. Aku merindukanmu… aku rindu saat kita makan berdua, bercanda, belajar bersama. Bicaralah, Din! Sadarlah!” kataku sambil memegang bahunya dan sedikit mengguncang tubuhnya, berharap ada reaksi dari sahabatku ini. Tapi nihil.
Lama aku memeluknya sambil terus membelai punggungnya yang terasa ringkih. Aku sesegukan menahan sakit di hatiku ini. Aku mendekapnya erat. Lalu, ku rasakan basah dan hangat di bahu kananku. Aku melepaskan pelukanku padanya. Ku lihat ia menangis.
“Aku mau menyusul ibu dan ayahku. Kau ingin ikut, Rika?” Tanyanya datar. Aliran darah terasa deras ku rasa dalam tubuhku. Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Ia tersenyum, manis sekali.
“Jangan pergi, Dinda… Kau harus sembuh!“ bisikku. Aku memeluknya lagi sambil menahan haru. Asa ku tumbuh mendengarnya bicara. Lafazku tak henti berdoa, memohon kesembuhan kepada Sang pemegang nyawa. Lama, hingga kurasakan tubuhnya melemah. Lunglai. Dingin. Akhirnya beku dan kaku.
“Dinda……..!!” Karya Maharani Yas